Jumat, 17 April 2015

UNTUK INDONESIAKU



KEMANA ETIKAKU PERGI?
            Tulisan ini merupakan unek-unek yang ada di pikiran saya, tak ada maksud untuk menyinggung atau menyindir pihak manapun. Namun, saya harap ini menjadi instropeksi diri untuk kita semua.
Kemarin, di perempatan  pulang dari kampus saya melihat ambulance lengkap dengan sirine yang meraung-raung, jelas itu tanda bahwa ada seseorang didalamnya yang harus segera mendapat pertolongan. Hal yang  membuat hati saya kesal adalah tidak ada satupun kendaraan yang mau mempersilahkan ambulance itu mendahului. Kronologinya begini, ambulance dari arah timur, sedangkan pada saat itu lampu hijau di bagian utara. Ambulance sudah berada di baris depan sisi timur akan ke arah barat, tapi tak ada satupun kendaraan yang mau berhenti untuk mempersilahkan ambulance itu pergi sampai lampu merah yang menghentikannya. Salah siapa? Dimana petugas lalu lintasnya? Dimana hati kita? Tidak bisakah menhentikan lajumu untuk beberap detik?.
Apalah dayamu ambulance yang kalah dengan mobil pejabat. Biarkanlah mereka yang sakit hingga mati karena terlambat mendapat pertolongan, bukankah lebih penting pejabat yang mengurusi tugas negara bukan?. Apa itu yang ada dipikiran kita? Tragis dan miris. Biar saya ilustrasikan bagaimana mobil pejabat bisa menembus kemacetan. Saat itu saya sedang mengunjungi Ibukota untuk sebuah keperluan. Dari jendela taksi terlihat banyak polisi yang melakukan penjagaan, guru saya bertanya kepada supir taksi “ kalau di sini penjagaanya memang begini ya pak?”, sopir taksi menjawab “ enggak bu, mungkin ini karena sekarang banyak kasus penembakan tak dikenal”. Saya yang mendengarkan percakapan tersebut berfikir bahwa  memang pada saat itu banyak polisi yang terkena tembak oleh orang tak dikenal bahkan ada yang meninggal. Beberapa saat kemudian terdengar suara sirine yang disusul dengan beberapa kendaraan polisi yang mendahului taksi yang kami tumpangi, dengan koordinasi yang sangat baik mereka mebuka jalan untuk kendaraan yang dibelakangnya. Wusssss cepat sekali mobil-mobil mewah itu berjalan ditengah padatnya jalanan Ibukota. Saat itu yang ada dibenak saya adalah kagum dan ternyata film-film yang pernah memperlihatkan kejadian itu memang tidak bohong.
Coba bandingkan kejadian ambulan dengan mobil pejabat diatas. Apa bedanya? Kenapa ketika mobil pejabat yang lewat kita langsung otomatis minggir? Ya karena ada tim yang membuka jalan, kan kalau ambulance enggak. Kalau yang di mobil mewah itu kan orang penting, namanya juga pejabat. Kalau mereka telat menghadiri tugas, bisa hancur negara kita, kacau balau, berantankan, siapa yang mau mengurusi Indonesia kalau bukan petinggi itu. Nah kalau yang didalam mobil ambulance kan Cuma orang yang lagi sakit, parah-parahnya paling meninggal, begitu yaaa?????.
Dimana indonesia yang katanya orang-orangnya ramah dan sopan,  bahkan ada yang bilang tanah kita tanah surga. Gimana mau jadi surga kalau kepedulian kita dengan sesama aja nol. Gimana mau jadi surga kalau korupsi sudah jadi budaya.  Gimana mau jadi surga kalau orang-orang yang sudah kita percaya diatas itu malah pada ribut sendiri, meja dibanting-banting, kursi dikosongin, disuruh mikirin kita malah tidur, udah pakai tikar aja kalau gitu buang aja kursinya buang aja mejanya.
Kami mah apa atuh, orang kecil yang bisanya Cuma mengeluh. Pinginnya negara yang makmur tentram sejahtera. Tapi kapan? ya Kalau kita udah siap!. Ayoolaaahhh mari kembalikan budaya kita, sopan santun kita, perilaku kita, etika kita. Baik etika dijalan dengan menghormati sesama, etika bersosial di masyarakat bahkan etika dalam bepolitik.
Untuk mencapai sesuatu yang besar, jangan malu untuk melakukan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, contoh:
1.     Buang sampah di tempat sampah, ketika kita berekreasi ataupun mengunjungi tempat-tempat umum jangan meninggalkan sampah begitu saja dengan pura-pura tak tau. Berharap ada petugas yang mau membersihkan sampah kita. Kalau nggak ada tempat sampah, bawa sampah itu pulang. BUANG SAMPAH SEMBARANGAN ITU NGGAK KEREN!.
2.     Stop Vandalisme, corat-coret di tempat yang bukan milik kita apa bagusnya?. Nulis nama pacar atau gank di batu, di tombok, dijalanan, gitu keren?. NORAKKKK!
3.     Budayakan budaya kita, yang paling sederhana adalah budaya unggah-ungguh terhadap sesama. Orang indonesia biasanya membungkukkan badan ketika lewat didepan orang, orang Indonesia biasanya menyapa orang lain walaupun hanya dengan tundukan kepala. Kita tahu di Asia, Jepang dan Korea Selatan masih menerapkannya walaupun negaranya sangatlah maju. Indonesia bisa kan?
Tak ada maksud tulisan ini untuk menggurui, saya teh Cuma orang kecil yang nggak tau apa-apa. Tapi saya punya mimpi dan optimisme untuk Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar